https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/issue/feed Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan 2025-12-29T00:00:00+00:00 Junio Richson Sirait juniorichson1995@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Basilius Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan</strong> is an international journal managed by <strong>CV. Basilius Eirene Press</strong>. It is an open-access journal that publishes research results in theology and education using a <strong>Blind Review</strong> system. CV. Basilius Eirene Press MoU with <strong><a href="https://stttransformasi-indonesia.ac.id/">STT Transformasi Indonesia</a></strong>.</p> https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/118 Peran Etika Sosial Orang Tua Dalam Pembentukan Tanggung Jawab Sosial Anak Usia Sekolah Dasar di Komunitas Multikultural 2025-07-08T18:51:50+00:00 Ceril Maria cerrilmanusiwa@icloud.com Julio Eleazer Nendissa julionendissa35@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi etika sosial yang diterapkan oleh orang tua dalam membentuk tanggung jawab sosial anak usia sekolah dasar dalam konteks masyarakat multikultural. Etika sosial dipahami sebagai seperangkat prinsip moral dan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam membangun hubungan sosial yang adil, saling menghormati, dan penuh tanggung jawab. Sementara itu, tanggung jawab sosial anak mencerminkan kemampuan mereka untuk memahami dan melaksanakan peran sosial dalam lingkungan mereka. Dalam masyarakat yang ditandai oleh keragaman budaya, nilai, dan kepercayaan, proses internalisasi tanggung jawab sosial pada anak menghadirkan tantangan tersendiri, sehingga menuntut keterlibatan aktif orang tua sebagai figur moral utama dalam kehidupan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka sebagai metode pengumpulan data. Hasil analisis menunjukkan bahwa orang tua yang secara konsisten menerapkan nilai-nilai etika sosial melalui keteladanan, komunikasi yang terbuka dan reflektif, serta pola pengasuhan yang adaptif, berperan signifikan dalam menumbuhkan kesadaran sosial anak sejak dini. Anak-anak yang dibesarkan dengan fondasi etika sosial yang kokoh cenderung menunjukkan sikap yang lebih toleran, kooperatif, dan mampu berinteraksi secara harmonis dengan individu dari latar belakang budaya yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya peningkatan kapasitas etis orang tua serta penguatan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam membentuk pola pengasuhan yang kontekstual dan tanggap terhadap dinamika keberagaman budaya.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/125 Generasi Muda dalam Kepemimpinan Gereja: Tantangan dan Peluang di Era Posmodernitas 2025-07-17T02:27:33+00:00 Anthony Natan antoniusnatan1@gmail.com Hestyn Natal Istinatun hestynistanatun@gmail.com David Ming restorasisttinjili@gmail.com <p>Artikel ini mengkaji fenomena perubahan nilai, ekspektasi, dan gaya hidup generasi muda di era posmodern, yang mulai mengambil peran strategis dalam kepemimpinan gereja. Meskipun gaya kepemimpinan kolaboratif dan partisipatif yang diadopsi oleh generasi muda sering kali berseberangan dengan struktur hierarkis gereja tradisional, mereka menunjukkan kesiapan yang signifikan dalam memimpin komunitas iman. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tantangan dan peluang yang dihadapi generasi muda dalam membentuk identitas kepemimpinan yang relevan melalui pendekatan kualitatif dan tinjauan teologis-kontekstual. Kontribusi khas dari studi ini terletak pada pengusulan model <em>mentoring</em> dua arah antara generasi tua dan muda, yang menawarkan pendekatan baru dalam pembinaan kepemimpinan gereja. Kebaruan penelitian ini juga tampak dalam penekanan terhadap peran pemimpin muda sebagai agen transformasi sosial dalam isu-isu global seperti keadilan sosial, kelestarian lingkungan, dan kesehatan mental. Urgensi dari temuan ini bagi Kekristenan terletak pada perlunya gereja merancang strategi pembinaan kepemimpinan yang adaptif dan transformatif di tengah kompleksitas zaman. Rumusan masalah yang diangkat adalah: bagaimana generasi muda dapat mengatasi tantangan kepemimpinan dalam konteks gereja yang sedang mengalami perubahan paradigma.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/139 Menemukan Harapan di Tengah Keputusasaan: Tanggapan Pendidikan Agama Kristen terhadap Kasus Bunuh Diri 2025-09-30T02:42:15+00:00 Tompul Tompul Pulaja93@gmail.com <p><em>Bunuh diri merupakan fenomena multidimensional yang mencerminkan krisis eksistensial, psikologis, dan spiritual yang mendalam. Meningkatnya kasus bunuh diri, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, menandakan urgensi pendekatan yang tidak hanya bersifat medis atau psikologis, tetapi juga spiritual dan pastoral. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara kritis peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam memberikan tanggapan konstruktif terhadap krisis keputusasaan yang berujung pada tindakan bunuh diri. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara terbatas terhadap praktisi pendidikan dan konselor pastoral, penelitian ini mengidentifikasi berbagai faktor pemicu keputusasaan, seperti hilangnya makna hidup, tekanan sosial, trauma masa lalu, serta kurangnya dukungan spiritual. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa PAK memiliki potensi besar dalam membangun ketahanan spiritual (spiritual resilience), menanamkan nilai-nilai kasih dan pengharapan, serta menghadirkan ruang dialogis yang aman bagi peserta didik untuk mengungkapkan beban hidupnya. Lebih dari sekadar penyampaian doktrin, PAK dapat menjadi agen penyembuhan batin melalui pendekatan holistik yang menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan spiritual. Dalam terang iman Kristen, penderitaan bukan akhir dari segalanya, melainkan dapat menjadi medium pembentukan karakter dan perjumpaan dengan kasih Allah. Dengan demikian, PAK diposisikan bukan hanya sebagai instrumen edukatif, melainkan sebagai sarana pastoral yang menghidupkan harapan di tengah keputusasaan. Rekomendasi praktis diarahkan pada pentingnya pelatihan guru PAK dalam bidang konseling rohani, integrasi kurikulum yang responsif terhadap isu kesehatan mental, dan kolaborasi antara sekolah, gereja, dan keluarga sebagai ekosistem pemulihan.</em></p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/142 Pengajaran Eskatologi Sebagai Bagian Penting Dalam Pendidikan Di Gereja 2025-10-22T08:46:53+00:00 Jon Jon bongminj@yahoo.com Soendoro Jahja sundorojahja69@gmail.com <p>Jarang sekali gereja-gereja yang membahas mengenai eskatologi secara khusus di dalam sebuah ibadah atau pengajarannya. Umumnya gereja lebih tertarik dengan topik khotbah dan pengajaran lain daripada membahas mengenai eskatologi dikarenakan banyak faktor seperti tidak menguasai materi eskatologi, takut jemaat tidak suka akan pengajaran tersebut dan lain sebagainya. Padahal kalau kita melihat kepada Alkitab maka jelas sekali bahwa pesan mengenai eskatologi sangat kuat dikumandangkan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah supaya gereja dapat mengerti betapa pentingnya pengajaran eskatologi bagi jemaat sehingga dapat mempersiapkan kurikulum dan bahan ajar yang akan digunakan nantinya. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis studi deskriptif dan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pengajaran eskatologi harus diposisikan sebagai doktrin utama dalam pendidikan gereja dan diajarkan melalui kurikulum, metode, serta evaluasi yang terstruktur agar jemaat membangun pemahaman dan pengharapan iman yang dewasa dan Alkitabiah. Adapun manfaat penelitian ini yaitu untuk menjadi acuan bagi gereja dalam mengembangkan strategi pengajaran eskatologi yang sistematis dan efektif sehingga dapat meningkatkan kedewasaan iman serta pemahaman teologis jemaat.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/146 Jaminan Mutu Pendidikan: Dampak Kebijakan terhadap Hasil Belajar Mahasiswa 2025-10-06T05:57:33+00:00 Tamba Parulian tambaparulian1105@gmail.com <p>Penelitian ini membahas penerapan Jaminan Kualitas (JK) di sekolah penyelenggara pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus selama pandemi COVID-19 dengan fokus pada perencanaan, implementasi, dan evaluasi dalam kerangka akreditasi sekolah. Studi ini juga mengeksplorasi persepsi pimpinan sekolah terhadap JK sebagai bentuk akuntabilitas institusional. Analisis mengacu pada standar Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M, 2022) yang menekankan empat komponen utama, yaitu kompetensi lulusan, proses pembelajaran dan pengajaran, kualifikasi guru, serta manajemen sekolah. Seiring meningkatnya tuntutan global terhadap daya saing pendidikan, pemerintah Indonesia mendorong lembaga pendidikan untuk memperoleh akreditasi. Kebijakan ini memunculkan isu strategis terkait kewenangan lembaga akreditasi, harmonisasi standar jaminan mutu lokal dan global, serta pengakuan timbal balik hasil akreditasi. Penelitian ini menganalisis kerangka akreditasi nasional di Indonesia, peran BAN-S/M, serta tantangan pandemi terhadap lembaga pendidikan dan sistem jaminan mutu nasional. Temuan menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan JK pada pendidikan inklusif dilakukan secara terstruktur, adaptif, dan partisipatif dengan melibatkan pendidik dan pemangku kepentingan masyarakat. Evaluasi tetap dilaksanakan meskipun terdapat keterbatasan sumber daya dan perubahan moda pembelajaran. Hasil penelitian menegaskan pentingnya keberlanjutan jaminan kualitas untuk menjaga mutu pendidikan dan kepercayaan publik. Selain itu, studi ini memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan sistem jaminan kualitas pendidikan inklusif serta implikasi kebijakan untuk reformasi akreditasi dan peningkatan mutu pendidikan berkelanjutan di Indonesia. Temuan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor penggunaan teknologi pembelajaran fleksibel penguatan kepemimpinan sekolah serta kesiapsiagaan krisis agar tata kelola mutu tetap efektif adil dan responsif terhadap kebutuhan siswa berkebutuhan khusus pada situasi darurat di masa depan nasional dan global berkelanjutan inklusif adaptif holistik berkeadilan.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/76 Alkitab Sebagai Sumber Liturgi dan Pengaruhnya Terhadap Antusiasme Ibadah Sebagai Sarana Pembentukan Spiritualitas Jemaat 2025-08-22T09:00:10+00:00 Martin Kadir lupinasmi203@gmail.com Nira Olyvia Purmanasari opidita@gmail.com <p>Sampai batas yang menyedihkan, orang Kristen menerima ritual Gereja sebagai pusaka suci tetapi membingungkan dari masa lalu Gereja. Ini untuk memperbaiki situasi ini. Alkitab dan Liturgi mencerahkan, lebih baik daripada yang pernah dilakukan sebelumnya, ikatan vital dan bermakna antara Alkitab dan liturgi. Fakta bahwa ritus-ritus liturgis dan perayaan-perayaan Gereja dimaksudkan, tidak hanya untuk menyampaikan rahmat sakramen-sakramen, tetapi untuk mengajar umat beriman dalam maknanya serta makna dari seluruh kehidupan Kristen. Melalui sakramen dalam perannya sebagai tanda-tanda itulah kita belajar. Agar nilainya akan dihargai, sakramen-sakramen dapat sekali lagi dianggap sebagai perpanjangan dari karya-karya besar Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/152 Penerapan Sifat Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13 Bagi Jemaat di Gereja Sungai Yordan Rajawali Bongap 2025-11-10T07:29:21+00:00 Susiana Susiana susi170802@gmail.com Ari Suksmono Hertanto arisuksmonohertanto@gmail.com Jhon Wesley jhonweslypskb@gmail.com <p>Kasih merupakan inti ajaran Kristen yang menjadi dasar hubungan antarjemaat sekaligus cerminan kedewasaan rohani. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:1–13 menegaskan bahwa pelayanan dan karunia rohani tidak berarti tanpa kasih. Namun, di Gereja Sungai Yordan Rajawali Bongap masih terdapat jemaat yang belum sepenuhnya menghidupi kasih. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana implementasi ajaran kasih berdasarkan 1 Korintus 13:1–13 serta mengidentifikasi dimensi dominan yang memengaruhi penerapan kasih di tengah jemaat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen angket kepada 36 responden. Data dianalisis melalui uji reliabilitas, uji normalitas, dan regresi linier dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi “Kasih dalam Sifat” memiliki pengaruh sangat kuat terhadap implementasi kasih. Koefisien korelasi sebesar 0,934 dengan kontribusi 87,3% menegaskan bahwa sifat kasih merupakan faktor utama dalam membentuk perilaku kasih jemaat. Penelitian ini bermanfaat bagi jemaat agar lebih konsisten mempraktikkan kasih. Dengan demikian, gereja dapat menjadi saksi nyata kasih Kristus bagi jemaat dan masyarakat sekitar.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/147 Kajian Teologis Injil Terapeutik dalam Perspektif Iman Kristen dan Kontrasnya dengan Injil Kerajaan Allah berdasarkan Alkitab 2025-10-24T02:44:08+00:00 Bobby Hartono Putra hartonobobby12@gmail.com <p>Jurnal ini mengeksplorasi secara kritis fenomena "Injil Terapeutik" (<em>Therapeutic Gospel</em>) dalam konteks iman Kristen. Injil terapeutik adalah varian kontemporer dari pengajaran Injil yang menekankan pemenuhan kebutuhan emosional, psikologis, identitas, harga diri, dan kebahagiaan individu sebagai pusat pesan. Kajian ini menelusuri asal, bentuk-bentuk, dan implikasi Injil terapeutik; membandingkannya dengan injil kerajaan sorga yang diajarkan oleh Yesus Kristus dan rasul-rasu, serta melakukan eksegesis terhadap beberapa teks kunci dalam Perjanjian Baru yang mendefinisikan injil yang benar. Hasilnya menunjukkan bahwa Injil ini menyimpang dengan memusatkan pesan Injil pada kesejahteraan psikologis, <em>self-esteem</em>, dan kebahagiaan saat ini, sehingga justru seringkali mengabaikan panggilan pertobatan radikal dan otoritas Kristus sebagai Raja. Oleh sebab itulah diketemukan bahwa injil terapeutik mengandung bahaya penyimpangan doktrinal dan praktis, melemahkan panggilan untuk pertobatan, mendorong individualisme, meniadakan dimensi kosmik kerajaan Allah bila dibandingkan dengan &nbsp;injil kerajaan sorga yang menuntut pertobatan, iman, ketaatan, dan harapan akan penegakan penuh kerajaan Allah di masa depan.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/153 Implementasi Sikap Sebagai Pelayan Tuhan Berdasarkan Filipi 4:1-9 Bagi Pengerja Di Gereja Bethel Indonesia Sungai Yordan Tanap Kembayan Kalimantan Barat 2025-11-10T06:58:56+00:00 Jelita Parasusanti wwwjeljelita245@gmail.com Sri Wahyuni elisasriwahyuni@gmail.com Yonathan Purnomo yonathanpurnomo@gmail.com <p>Sikap sebagai pelayan Tuhan merupakan wujud keteguhan iman, kesatuan dalam kasih, serta pikiran yang terarah pada kebaikan sebagai cerminan hidup yang diperbarui dan berpusat pada Kristus. Hal ini tampak dalam pelayanan pengerja di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Sungai Yordan Tanap, Kembayan, Kalimantan Barat, meskipun masih ada sebagian yang belum sungguh-sungguh dalam melaksanakan tanggung jawab pelayanan. Penelitian ini bertujuan menilai implementasi sikap sebagai pelayan Tuhan berdasarkan Filipi 4:1–9 serta mengidentifikasi dimensi dominan yang memengaruhi implementasinya. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan survei dan wawancara, dianalisis melalui korelasi Pearson menggunakan SPSS 25, dengan uji validitas, reliabilitas, normalitas, confidence interval 5%, uji signifikansi regresi, dan one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi sikap sebagai pelayan Tuhan berada pada kategori “sedang”, dengan interval kepercayaan 198,6204–205,3396, yang sesuai dengan hipotesis pertama sehingga dinyatakan diterima. Selain itu, dimensi yang paling dominan menentukan implementasi sikap pelayan Tuhan adalah “hidup dalam kesatuan” (D2), dengan koefisien korelasi 0,970 dan koefisien determinasi 0,941 atau kontribusi sebesar 94,1%. Temuan ini mempertegas bahwa kesatuan dan kebersamaan merupakan faktor kunci dalam membentuk sikap seorang pelayan Tuhan, sehingga hipotesis kedua juga terbukti dan diterima. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan perlunya setiap pengerja di GBI Sungai Yordan Tanap mengembangkan keteguhan iman, menjaga kesatuan, dan memusatkan hidup pada Kristus agar sikap pelayanan dapat diimplementasikan secara konsisten dan berdampak positif bagi pertumbuhan gereja.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/156 Ketahanan Iman Jemaat di Tengah Penganiayaan: Kajian Teologis Matius 5:10–12 dalam Konteks Gereja di Indonesia 2025-11-10T03:49:45+00:00 Ranto Indra Pasaribu indra1985pasaribu@gmail.com Guntur Hari Mukti 9untur.hari.mukti@gmail.com Tjahjadi Chandra chuangtjah@gmail.com <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus penganiayaan terhadap umat Kristen di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat, yang menunjukkan ketegangan antara jaminan kebebasan beragama dan realitas sosial di lapangan. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan teologis dan pastoral bagi gereja dalam membina jemaat agar tetap setia dan berpengharapan di tengah tekanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan Matius 5:10–12 secara teologis serta mengkontekstualisasikannya bagi pembentukan ketahanan iman jemaat di masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutik teologis dan pastoral kontekstual, melalui tiga tahap: eksposisi teks biblika, analisis konteks sosial-keagamaan, dan refleksi pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderitaan karena kebenaran merupakan bagian dari kerohanian murid Kristus yang meneguhkan identitas gereja sebagai komunitas salib. Ketahanan iman jemaat dibentuk melalui lima dimensi utama: pengalaman rohani yang otentik, komunitas gereja yang suportif, pengajaran teologis yang kontekstual, kepemimpinan rohani yang empatik dan profetik, serta kesadaran eskatologis yang menumbuhkan pengharapan. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja di Indonesia dipanggil untuk mengembangkan model pembinaan pastoral integratif yang mampu mengubah penderitaan menjadi sarana pembentukan iman dan kesaksian Kristus di tengah dunia yang menolak kebenaran.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/160 Relevansi Kebangkitan Kristus Dalam Memperkuat Iman Di Era Digital: Perspektif Teologi Dan Apologetika 2025-12-01T08:02:10+00:00 Benniardi Andreas Budiana benniardi22@gmail.com Yonatan Alex Arifianto arifianto.alex@gmail.com Reni Triposa renitriposa6@gmail.com <p>Kebangkitan Kristus menjadi fondasi utama iman Kristen, namun di era digital kebenaran ini semakin sering dipertanyakan melalui arus informasi yang cepat, skeptisisme budaya, dan maraknya narasi yang merelatifkan fakta historis iman.&nbsp; Masyrakat digital yang terbiasa dengan arus informasi instan dan pluralitas pandangan, kerap mempertanyakan kembali fondasi historis serta signifikansi praktis dari keyakinan mereka. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menelaah kembali relevansi kebangkitan Kristus. Hasil pembahasan menegaskan bahwa kebangkitan Kristus tidak hanya dapat dipertanggungjawabkan sebagai peristiwa sejarah melalui argumen apologetis yang kokoh, tetapi juga berfungsi sebagai sumber utama yang memberikan kepastian iman, dasar pengharapan, dan kekuatan untuk hidup baru yang bermakna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebangkitan Kristus menawarkan sebuah respons yang kuat bagi kebutuhan generasi digital: sebuah iman yang berakar pada fakta yang dapat diuji sekaligus berbuah dalam pengalaman spiritual yang sesungguhnya. Singkatnya, kebangkitan Kristus menyediakan respons komprehensif, menjadi jangkar intelektual sekaligus daya dorong spiritual vital di era disrupsi.</p> 2025-12-29T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/161 Integrasi Moralitas dan Spiritualitas dalam Pendidikan Sekolah Minggu Berdasarkan Amsal 22:6: Suatu Kajian Teologi Pendidikan Kristen 2025-11-30T15:18:58+00:00 Jelita Mallangi Matippanna mallangijelita89@gmail.com Esti Regina Boiliu estireginaboiliu02@gmail.com Reni Triposa renitriposa@sttsangkakala.ac.id <p>Perkembangan teknologi dan arus digitalisasi menghadirkan tantangan baru bagi pembentukan moralitas dan spiritualitas anak-anak Kristen. Nilai-nilai iman kerap terpinggirkan oleh pengaruh budaya populer serta melemahnya keteladanan rohani di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dalam situasi demikian, pendidikan Sekolah Minggu memiliki peranan penting sebagai ruang pembinaan iman yang membentuk karakter dan spiritualitas anak sejak dini. Berlandaskan Amsal 22:6, pendidikan Kristen menegaskan panggilan untuk menuntun anak agar hidup sesuai dengan kebenaran Tuhan melalui relasi pribadi yang nyata dengan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan penerapan integrasi moralitas dan spiritualitas dalam pendidikan Sekolah Minggu menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi moralitas dan spritualitas terwujud melalui pemahaman teologis pendidik terhadap nilai iman, penerapan strategi pembelajaran berbasis pengalaman rohani, serta keteladanan hidup guru dan komunitas iman. Pendekatan belajar yang reflektif dan partisipatif terbukti efektif dalam menanamkan nilai kasih, tanggung jawab, serta rasa takut akan Tuhan. Menjawab tantangan era digital, guru Sekolah Minggu dituntut kreatif dalam memanfaatkan media rohani, memperkuat sinergi dengan keluarga dan gereja, serta menciptakan lingkungan belajar yang selaras antara ajaran dan perbuatan. Dengan demikian, integrasi moralitas dan spiritualitas menjadi dasar utama dalam pembentukan iman yang utuh, kontekstual, dan relevan bagi kehidupan anak-anak Kristen masa kini.</p> 2025-12-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan https://e-journal.basileajutyn.com/index.php/jb/article/view/162 Frase Kasih Tidak Melakukan yang Tidak Sopan Berdasarkan 1 Korintus 13:5 Implementasinya Bagi Karakter Hamba Tuhan Masa Kini 2025-11-30T15:12:36+00:00 Lianasari Hendarto lianasari@stbi.ac.id Aji Suseno ajisuseno@stbi.ac.id <p>Penelitian ini membahas frasa “kasih tidak melakukan yang tidak sopan” dalam 1 Korintus 13:5 serta implementasinya bagi karakter hamba Tuhan masa kini. Fokus kajian diarahkan pada pemahaman biblis mengenai makna kasih sebagai dasar etika Kristen yang menekankan kesopanan, penghormatan, dan penghargaan terhadap martabat sesama. Melalui kajian teologis dan literatur, ditemukan bahwa istilah Yunani aschemoneo menegaskan kasih sejati tidak pernah mendorong perilaku yang tidak pantas, melainkan selalu menjaga kepantasan dan kehormatan di hadapan Allah dan manusia. Dalam konteks pelayanan, hamba Tuhan dituntut tidak hanya memiliki kemampuan rohani, tetapi juga membangun karakter kasih yang sopan melalui sikap lemah lembut, empati, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap perbedaan jemaat. Kesopanan dalam kasih bukan sekadar norma sosial, melainkan manifestasi nyata iman yang hidup, sehingga pelayanan menjadi lebih efektif, membangun, dan mencerminkan teladan Kristus. Dengan demikian, frasa “kasih tidak melakukan yang tidak sopan” relevan sebagai fondasi karakter hamba Tuhan masa kini agar pelayanan mampu menghadirkan kasih Kristus secara nyata di tengah masyarakat yang cenderung menoleransi kekasaran.</p> 2025-12-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 Basilius Eirene: Jurnal Agama Dan Pendidikan